tvOne Newsticker
Kamis, 29 Juli 2010

Kabar IPTEK

Ilmuwan Dunia Desak Para Pemimpin Beraksi Nyata

Jumat, 18 September 2009 16:38 WIB

Denpasar, (tvOne)

Sebanyak 40 ilmuwan ahli perubahan iklim terkemuka dunia, di antaranya Dr Armi Susandi dari Indonesia, menandatangani surat terbuka berisi desakan kepada para pemimpin dunia untuk mengambil aksi nyata memerangi perubahan iklim global.

Hal itu diharapkan dilakukan terutama dalam Pertemuan Puncak PBB Tentang Perubahan Iklim Global di Kopenhagen, Denmark, pada Desember nanti, demikian korespondensi ANTARA dengan salah satu ilmuwan itu, Saleemul Huq, di Denpasar, Jumat siang.

Disebutkan bahwa pernyataan bersama itu diinisiasi oleh WWF dan didukung sepenuhnya oleh ilmuwan terhormat, Sir John Houghton, yang juga bekas Ketua Panel Antarpemerintahan Untuk Perubahan Iklim Global (IPCC).

Puluhan ilmuwan ahli perubahan iklim global itu mendesak para pemimpin negara-negara industri dengan kerja sama negara lain, untuk sesegera mungkin mewujudkan komitmen mereka memotong emisi karbon dengan target waktu 2020 hingga lebih dari 40 persen di bawah tingkatan yang terkandung pada 1990.

"Bukti ilmiah menunjukkan, bahkan kenaikan cuma dua derajad Celcius mampu menyengsarakan kaum miskin dunia secara sangat berarti. Mereka yang tinggal di negara-negara kepulauan kecil dan kawasan pantai juga termasuk yang sangat menderita karena hal ini," katanya.

"Dengan begitu, sebetulnya pengurangan pada level di atas 40 persen ketimbang emisi karbon pada 1999 itu masih sangat kecil pengaruhnya pada upaya kita menghindarkan diri dari dampak merusak terhadap kaum miskin dunia itu," katanya lagi.

Langkah para ilmuwan dunia itu juga didukung sepenuh hati oleh Kepala Bidang Perubahan Iklim Dunia WWF, Keith Allot. "Ini adalah saat tepat bagi Perdana Menteri Gordon Brown dan pemimpin dunia lainnya untuk mengubah kata-kata menjadi aksi nyata. Pemerintah Inggris dalam hal ini telah melakukan berbagai seri pembicaraan dalam kerangka Uni Eropa," katanya.

Surat terbuka dari para ilmuwan ahli perubahan iklim global itu menyatakan, pada Konferensi Puncak Perubahan Iklim Dunia PBB di Kopenhagen pada Desember nanti, para pemimpin dunia memiliki kesempatan bersejarah untuk bersepakat mengatasi masalah perubahan iklim global.

Untuk mencegah dampak berbahaya dari perubahan iklim, perundingan itu harus didasarkan pada pemahaman ilmiah paling mutakhir tentang pengurangan emisi karbon yang diperlukan, dengan kewajiban atas kesepakatan yang disebar secara seimbang antara negara maju dan negara berkembang.

Ini berarti bahwa negara-negara maju pada 2020 nanti harus mampu mengurangi emisi karbonnya di atas 40 persen di bawah level terkandung pada 1999.

Kopenhagen, kata surat terbuka itu, mewakili kesempatan terbaik kita untuk mengurangi dampak terburuk perubahan iklim dunia terhadap manusia, spesies mahluk hidup, dan ekosistem.

Lebih dari 120 negara, termasuk anggota G8, Uni Eropa, dan negara berkemampuan ekonomi kunci baru dunia, yaitu China, Afrika Selatan, dan Meksiko, sepakat bahwa kenaikan temperatur dunia harus di bawah dua derajad Celcius.

Jika kenaikan temperatur itu di atas angka tersebut, perubahan iklim dunia niscaya menimbulkan kesengsaraan global. Guna menemukan kesempatan terbaik dalam mencapai tujuan ini, Laporan IPCC pada 2007 merekomendasikan negara maju mengurangi emisi pada 2020 nanti antara 25 hingga 40 persen berbasis level pada 1990.

Negara-negara maju memiliki komitmen untuk mengurangi emisi karbon itu antara 10 hingga 16 persen pada 2020, satu tingkatan yang inkonsisten secara membahayakan terhadap komitmen mereka atas target dua derajad Celcius yang disepakati.

Bukti ilmiah termutakhir menunjukkan, negara-negara maju itu harus meningkatkan ambisinya sekaligus mengurangi emisi karbon hingga 40 persen pada 2020 guna mempertahankan keinginan yang bisa dipertanggungjawabkan untuk mencegah dunia dari bahaya perubahan iklim global.

am


Bookmark and Share
Komentar Kabar
Kirim Komentar