Kabar IPTEK
Pers Diminta Membantu Sosialisasi Pendidikan Inklusi Autis
Rabu, 21 Oktober 2009 06:24 WIB
Bogor, (tvOne)
Wakil Wali Kota Bogor Achmad Ru`yat meminta peran serta pers atau media massa untuk membantu mensosialisasikan keberadaan pendidikan inklusi yang ada di sekolah umum bagi anak-anak autis.
Dalam pernyataan usai membuka kegiatan pendidikan dan pelatihan penanganan anak autis, "Attention Defective Discorder" (ADD) dan "Attention Defective Hiperactive" (ADHD) di SD Negeri Sumeru 6, Gang Kelor, Kelurahan Menteng, Kecamatan Bogor Barat, Selasa, ia menyatakan bahwa peran pers untuk sosialisasi mengenai pendidikan semacam itu amat dibutuhkan.
"Untuk itulah, kami berharap kepada media massa untuk dapat membantu mensosialisasikannya," katanya.
Dalam sejumlah rujukan, secara umum, model pendidikan inklusi pada dasarnya memberikan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah-sekolah umum.
Ia mengakui bahwa masih banyak orang tua yang anaknya autis, ADD dan ADHD merasa minder untuk menyekolahkan anaknya.
Malahan, para orang tua hanya tahu bahwa pendidikan inklusi untuk anak-anak autis, ADD dan ADHD hanya dikelola oleh swasta dengan biaya cukup mahal.
"Padahal, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah membuka sekolah inklusi tanpa dipungut biaya," katanya.
Atas kondisi semacam itu, sekali lagi pihaknya membutuhkan peran serta pers dan media massa untuk membantu menginformasikan keberadaan model pendidikan inklusi semacam itu, sehingga dapat diketahui masyarakat luas.
Pada bagian lain, ia menyatakan bahwa Pemkot Bogor memberikan apresiasi positif atas kerja sama Kanwil Dinas Pendidikan Jawa Barat (Jabar) yang membuka pendidikan inklusi dengan membuka kurikulum dan program pada anak berkebutuhan khusus dimaksud.
"Sejak beberapa tahun lalu, di Kota Bogor sudah ada tiga SD, yakni SD Negeri Sumeru 6, SD Perwira, dan SD Batutulis 2 yang menyediakan sekolah inklusi," katanya.
Ia mengatakan, kata autisme sering menjadi bahan perbincangan, bahkan tidak sedikit orang tua merasa khawatir jika anaknya terlambat bicara atau sering bertingkah laku tidak lazim dengan anak-anak sebayanya.
Bahkan, ada yang lebih khawatir lagi apabila kondisi itu terjadi pada anak yang sudah menginjak usia sekolah, sehingga mereka minder untuk menyekolahkan anaknya yang menderita autis.
Guna menyikapi persoalan semacam itu, kata dia, Pemkot Bogor membuka pendidikan inklusi bagi?bagi anak autis di sekolah umum. "Walaupun baru sebatas tingkat sekolah dasar, namun ternyata keberadaannya sangat membantu orang tua pelajar yang mempunyai anak penderita autis," katanya.
Untuk pengembangan ke depan, pihaknya telah meminta kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) agar bisa membuka ruang lebih luas lagi untuk sekolah inklusi, yakni tidak hanya dibuka di tiga SD yang sudah ada, namun dapat diperluas hingga ke tingkat SMP (sekolah menengah pertama).
Perluasaan dan pengembangan itu dibutuhkan, karena setelah lulus dari SD, anak-anak autis, ADD, ADHD harus melanjutkan ke tingkat SMP, demikian Achmad Ru`yat.
